Oleh: *Toto Izul Fatah*
Salah satu ancaman terbesar generasi muda hari ini bukan hanya kemiskinan dan pengangguran, melainkan keretakan batin, kehilangan arah, dan rapuhnya ikatan keluarga. Membangun citra kemajuan Yes, membangun jalan mulus dan gedung Ok, tetapi, jangan lupa membangun benteng paling penting bagi masa depan, yaitu jiwa anak-anak kita.
Dalam konteks itulah, sangat relevan salah satu tema kegiatan dalam Ultah Kang Dedi Mulyadi (KDM) ke-55, Sabtu malam (11/4/2026) kemarin. Yaitu, Eling Ka Indung. Salah satu tema kegiatan yang dipilih gubernur Jawa Barat itu sesungguhnya bisa ditafsirkan sebagai pendekaktan kultural dan psikologis yang sangat relevan untuk pencegahan Narkoba di kalangan anak-anak muda Jawa Barat.
Apalagi, di tengah meningkatnya kompleksitas problem anak muda, selain narkoba, juga ada kekerasan, tawuran, kecanduan gim, hingga keterputusan emosional dalam keluarga. Karena itu, tema itu seharusnya tak hanya berhenti pada rangkaian ceremoni Ultah KDM, tetapi secara akademis dapat menjadi salah satu solusi pendekatan psikologis berbasis budaya untuk membangun daya tahan generasi muda Jawa Barat.
Relevansinya makin kuat ketika dikaitkan dengan cita-cita besar mewujudkan Jawa Barat Istimewa, yang bukan hanya maju secara infrastruktur, tetapi juga unggul secara watak, mental, dan kualitas manusianya.
Secara empiris, ancaman narkoba masih nyata. BNN Jawa Barat mencatat bahwa persoalan narkotika di provinsi ini harus ditangani dengan strategi yang serius mengingat besarnya jumlah penduduk dan sebaran wilayahnya. Dalam laporan kinerja 2024, BNNP Jawa Barat merujuk data BNN bahwa prevalensi penyalahgunaan narkoba nasional setahun pakai turun dari 1,95% pada 2021 menjadi 1,73% pada 2024, setara sekitar 3,33 juta penduduk usia 15–64 tahun yang terpapar dalam setahun terakhir. Pada saat yang sama, BNNP Jawa Barat juga menegaskan perlunya strategi penanganan khusus karena Jawa Barat dihuni sekitar 50 juta jiwa dan tersebar di 27 kabupaten/kota. Sepanjang 2024, BNNP Jawa Barat juga mengungkap 33 kasus peredaran gelap narkotika dengan 36 tersangka. Ini menunjukkan bahwa ancaman narkoba bukan isu abstrak, melainkan realitas yang terus bergerak di tengah masyarakat.
Dari sudut pandang psikologi perkembangan remaja, pencegahan narkoba tidak cukup hanya dengan pendekatan hukum, razia, atau kampanye ancaman bahaya. Pendekatan yang efektif justru harus menyentuh akar psikologis anak muda: kebutuhan akan kasih sayang, rasa dilihat, rasa diterima, rasa dipandu, dan rasa dimiliki.
Dalam kerangka ini, “Eling Ka Indung” dalam horizon budaya Sunda, bukan sekadar bermakna ingat kepada ibu. Tetapi maknanya jauh melampaui hubungan biologis antara anak dan perempuan yang melahirkannya. Indung adalah sumber kasih, madrasah pertama akhlak, dan tempat pulang paling awal.
Dalam makna itulah, “Eling Ka Indung” berarti juga membangun kembali ikatan emosional anak dengan figur pengasuh utama, terutama ibu sebagai simbol kasih, asal-usul, kedekatan batin, dan otoritas moral pertama dalam kehidupan anak. Melalui pendekatan ini, seorang anak akan selalu terkoneksi secara batin dengan ibunya. Dan seorang anak juga akan selalu tersambung mental, spiritual dan emosionalnya dengan ibunya.
Literatur internasional tentang kesejahteraan remaja menunjukkan bahwa connectedness atau keterhubungan emosional dengan orang tua, sekolah, dan komunitas berkorelasi dengan hasil yang lebih baik. Termasuk, lebih rendahnya keterlibatan pada kekerasan dan penggunaan zat.
Data WHO menyebutkan, bahwa ketika remaja merasa terhubung dengan orang tua, sekolah, teman sebaya, dan komunitas, mereka menunjukkan kesehatan mental yang lebih baik, harga diri yang lebih baik, serta lebih sedikit penggunaan zat.
Dalam dokumen yang sama, unsur positive parenting dijelaskan meliputi connectedness dengan setidaknya satu orang tua atau pengasuh, ketersediaan emosi, responsivitas, ekspektasi perilaku dan pendidikan yang tinggi, serta pengawasan perilaku.
Itu berarti, secara akademis, pesan “Eling Ka Indung” dapat diterjemahkan ke dalam bahasa psikologi sebagai upaya memperkuat attachment, parental connectedness, emotional responsiveness, dan behavioral monitoring. Empat unsur ini adalah fondasi protektif yang sangat penting dalam pencegahan perilaku berisiko, termasuk penyalahgunaan narkoba.
WHO juga menekankan bahwa di tingkat keluarga, orang tua dan pengasuh memiliki peran krusial dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang remaja, sementara sekolah dan komunitas berperan penting untuk mengenali tanda-tanda peringatan seperti kecemasan, kesedihan, dan penggunaan zat, lalu menghubungkan anak dengan layanan bantuan.
Dari sini terlihat bahwa “Eling Ka Indung” bukan sekadar slogan sentimental, melainkan dapat dijadikan model intervensi sosial-psikologis berbasis budaya Sunda.
Dalam kebudayaan Sunda, “indung” bukan hanya ibu biologis. Ia adalah lambang sumber kasih, tempat pulang, akar moral, pengingat malu, dan penjaga rasa. Anak yang masih “eling ka indung” pada dasarnya masih memiliki tali batin dengan nilai, rumah, dan batas. Sebaliknya, banyak perilaku menyimpang pada remaja lahir ketika relasi itu putus: anak tidak lagi merasa punya tempat pulang secara emosional, sedangkan orang tua hadir hanya secara fisik, bukan secara psikologis.
Karena itu, sekali lagi, spirit tema Ultah KDM Eling Ka Indung dengan pesan kepada anak untuk selalu eling ka indung, dan sebaliknya indung juga eling ka anak menjadi semakin penting.
Secara akademis, ini menegaskan bahwa pencegahan narkoba tidak boleh dibebankan hanya kepada anak. Relasi keluarga adalah relasi dua arah. Anak perlu diikat oleh ingatan moral kepada ibu, tetapi ibu dan orang tua juga harus hadir secara sadar, hangat, terlibat, dan peka terhadap perubahan perilaku anak.
Anak yang memiliki hubungan saling mendukung antara keluarga dan sekolah menjadi lebih kecil risikonya mengalami penyalahgunaan alkohol dan narkoba, kenakalan remaja, serta problem kesehatan mental.
Dengan demikian, “Eling Ka Indung” sangat mungkin dijadikan salah satu arsitektur moral dan psikologis dalam kebijakan pembangunan manusia Jawa Barat. Ini bahkan sejalan dengan arah pembangunan karakter di Jawa Barat.
Apalagi, KDM dalam beberapa kesempatan sering mengingatkan, bahwa pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk selalu menekankan pendidikan karakter Gapura Panca Waluya. Salah satu orientasinya, membentuk anak yang cageur, bageur, bener, pinter, dan singer.
Karena itu, pesan utama dari “Eling Ka Indung” ini dapat menjadi roh afektif dan kultural yang melengkapi pendidikan karakter formal. Kedepan, “Eling Ka Indung” itu idealnya tidak berhenti sebagai tema acara seremonial, tetapi diturunkan menjadi pendekatan sistemik, khususnya di bidang pendidikan.
Misalnya, ini bisa dimulai dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Apabila hendak dijadikan kebijakan publik atau moto pendidikan, saya melihat ada beberapa bentuk operasional yang sangat mungkin dilakukan di Jawa Barat.
Pertama, “Eling Ka Indung” dijadikan narasi dasar pendidikan karakter Jabar di sekolah-sekolah, terutama SMP dan SMA/SMK, bukan dalam bentuk slogan kosong, tetapi dalam modul relasi anak-orang tua, literasi emosi, pencegahan narkoba, dan etika pergaulan.
Kedua, dibuat program parenting Jabar yang menekankan bahwa ibu dan ayah bukan hanya pencari nafkah, melainkan juga penjaga kesehatan mental anak. Fokusnya bukan sekadar menasihati anak, tetapi juga melatih orang tua untuk mendengar, mengenali tanda krisis, membangun komunikasi, dan melakukan pengawasan yang hangat.
Ketiga, sekolah perlu memiliki ritual sosial-pedagogis yang memperkuat ikatan keluarga, misalnya hari refleksi orang tua-anak, surat untuk ibu, forum dialog keluarga, atau konseling keluarga berkala bagi siswa berisiko.
Keempat, kampanye anti narkoba di Jawa Barat sebaiknya tidak hanya memakai bahasa bahaya dan hukum, tetapi juga memakai bahasa budaya, kasih, dan harga diri keluarga. Pesan seperti “ulah nyieun indung ceurik” sering secara psikologis lebih membekas daripada slogan ancaman yang kering.
Kelima, untuk kasus-kasus anak berisiko tinggi, pendekatan rehabilitasi sosial harus melibatkan keluarga secara lebih serius. Sebab tanpa pemulihan relasi di rumah, anak yang sudah dibina di luar sering kembali jatuh ketika pulang ke lingkungan keluarga yang dingin, keras, atau abai.
Pada titik inilah tema “Eling Ka Indung” menjadi sangat strategis untuk visi Jawa Barat Istimewa. Keistimewaan Jawa Barat tidak akan cukup dibangun hanya dengan jalan yang bagus, tata kota yang rapi, atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Keistimewaan itu harus tampak pada kualitas manusianya. Termasuk, anak-anak yang tidak kehilangan arah, keluarga yang tidak kehilangan ikatan, sekolah yang tidak kehilangan ruh, dan masyarakat yang tidak kehilangan rasa.
Jakarta, April 2026
*Toto Izul Fatah*
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat

