Joglo Mbah Yung

Rumah Joglo Mbah Yung didirikan sebagai bentuk kecintaan Pak Purwanto kepada ibundanya, yang dikenal dengan panggilan Mbah Tuniah. Rumah ini berdiri di atas lahan keluarga besar Kakek Abdullah Masum, ayah dari Abdul Somad, ayah kandung Pak Purwanto. Lahan tersebut merupakan bagian dari tanah keluarga yang secara turun-temurun diwariskan kepada anak-anaknya.

Sebelum dibangun Rumah Joglo Mbah Yung, di lahan tersebut berdiri rumah milik Pakde Kowaid dan Mbah Laminah yang kemudian menjadi bagian dari kepemilikan keluarga Abdul Somad. Kini, lahan tersebut menjadi tempat berdirinya sebuah rumah tradisional yang tidak hanya memiliki nilai arsitektur, tetapi juga menyimpan sejarah keluarga dan jejak budaya yang panjang.

Jejak Sejarah dari Kebumen

Rumah Joglo Mbah Yung yang berada di Gerendong, Mangunjaya, Pangandaran, menggunakan material utama dari rumah milik Bapak Sutarno di Desa Kewarasan, Gombong, Kebumen.

Salah satu bagian penting dari material tersebut adalah gebyok yang dibuat pada tahun 1956. Keberadaan gebyok beserta kayu dan ornamen lama menjadikan rumah ini memiliki nilai sejarah tersendiri. Material yang telah berusia puluhan tahun tersebut tidak sekadar digunakan kembali, tetapi dirawat dan dihidupkan dalam bentuk rumah joglo baru di Pangandaran.

Proses pembongkaran material berasal dari tiga unit rumah di Kebumen dan dilakukan pada Juni 2026. Setelah dibongkar, seluruh material dibawa melalui proses pengerjaan dan persiapan kembali di Kebumen selama kurang lebih satu bulan sepuluh hari.

Dikerjakan oleh Para Pengrajin

Proses persiapan material di Kebumen melibatkan sejumlah tenaga ahli, yaitu Lek Seger, Mas Ali, Mas Anto, Pak Budiman, Mas Toro, Mas Bandot, dan Mas Aji.

Sementara itu, pengerjaan ukiran dan renovasi ornamen ditangani oleh Mas Teguh. Proses tersebut dilakukan dengan tetap mempertahankan karakter serta keaslian ukiran tradisional yang menjadi bagian penting dari identitas rumah joglo.

Setiap bagian kayu tidak hanya dipersiapkan sebagai material bangunan, tetapi juga diperhatikan nilai bentuk, ukiran, dan karakter aslinya. Dengan demikian, jejak keterampilan para pengrajin dari masa sebelumnya tetap dapat terlihat dalam bangunan yang hadir saat ini.

Dari Kebumen Menuju Pangandaran

Setelah seluruh material selesai dipersiapkan, rombongan berangkat menuju Pangandaran pada Minggu, 26 Juli 2026.

Material kemudian dirakit dan dikerjakan kembali di Rumah Mbah Tuniah, Gerendong, Mangunjaya, Pangandaran. Proses perakitan dan pengerjaan di lokasi berlangsung selama kurang lebih tujuh hari hingga membentuk sebuah rumah joglo yang menyatukan berbagai bagian bangunan dari tempat asalnya di Kebumen.

Perjalanan material dari Kebumen menuju Pangandaran menjadi bagian penting dari cerita rumah ini. Kayu, gebyok, dan ornamen yang sebelumnya menjadi bagian dari rumah-rumah lama kini mendapatkan kehidupan baru di lingkungan keluarga Mbah Tuniah.

Menjaga Warisan untuk Masa Depan

Rumah Joglo Mbah Yung menjadi bagian dari upaya merawat kembali warisan arsitektur tradisional. Setiap kayu, ukiran, dan bagian bangunannya membawa jejak sejarah dari tempat asalnya di Kebumen, kemudian dihidupkan kembali di Pangandaran.

Lebih dari sekadar bangunan, Rumah Joglo Mbah Yung menjadi ruang yang mempertemukan sejarah keluarga, keterampilan para pengrajin, dan pelestarian budaya Jawa dalam satu karya.

Di dalamnya, masa lalu tidak sekadar disimpan, tetapi dirawat dan dihadirkan kembali. Dari kayu-kayu lama yang memiliki cerita, lahir sebuah rumah baru yang menjadi pengingat bahwa warisan budaya dapat terus hidup ketika dirawat, digunakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top