
Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Dalam buku yang berjudul “Menyemai Karakter Linuhung” karya Dr. H. Purwanto, M.Pd., dengan pengantar Kang Dedi Mulyadi (KDM), sangat penting untuk dibaca publik, terutama para pendidik. Mengapa para pendidik lebih utama membaca buku ini? Selain membawa “Transformasi Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal” juga memberi solusi pada penguatan karakter anak didik.
Anak didik adalah warga negara yang akan hidup di masa depan. Desain karakter dan penguatan budaya cinta lingkungan harus diinjeksikan sejak dini, sejak usia pendidikan dasar, terutama. Dr. H. Purwanto, M.Pd., dalam buku “Menyemai Karakter Linuhung” sangat substantif dan jleb dalam menjelaskan betapa pentingnya kita semua menguatkan kesadaran lingkungan, budaya dan spiritual.
Terutama bagi anak didik sebagai pribadi yang akan hidup di masa depan, menggantikan kita semua dan menentukan kehormatan bangsa, harus beradab dan berkarakter. Anak didik tidak hanya melulu berproses dalam transfer ilmu, melihat slide, mendengarkan, menghitung, presentasi, diskusi dan orasi. Anak didik pun “harus menyentuh tanah”, mereka wajib turun ke luar kelas, belajar dari alam, merawat tanaman, peliharaan dan tak terpisah dengan realitas alam sekitarnya.
Bila mayoritas anak lebih banyak menyentuh gawai, berimajinasi ke dunia maya, autistik dengan gawainya, abai pada sekitar, bahaya. Mengapa bahaya? Karena Ia akan teralienasi dari realitas sesungguhnya. Tanah, udara, air dan matahari yang “melekat” dengan nyawa dan kehidupannya terabaikan. Ini tentu tak positif.
Dr. Purwanto mengajak kita semua menjadi bagian penting keasrian dan kelestarian alam sekitar. KDM pun dalam pengantarnya mengatakan “Kita harus beradab pada diri, sesama dan lingkungan dimana kita berada”. Dr. Purwanto dan KDM identik dalam satu perspektif bahwa “Kapasitas seseorang yang cinta lingkungan akan bisa memaknai infrastruktur”. Ruang ruang publik akan menjadi ruang asri bila manusia punya kapasitas cinta lingkungan, bukan sebaliknya.
Bisa jadi bagi Dr. Purwanto dan KDM anak yang tidak menyentuh tanah, tidak bersahabat dengan lingkungan sekitar dan bukan penyuka kelestarian alam sekitar akan menjadi pribadi perusak tanah kelak ketika dewasa. Mereka bisa menjadi penggali tambang, penggundul hutan dan polutif pada sungai sungai yang seharusnya lestari. Bukankah realitas rusaknya alam saat ini dilakukan orang orang dewasa? Bahkan mereka yang berkuasa?
Dalam buku “Menyemai Karakter Linuhung”, Dr. Purwanto menjelaskan mengapa Ia “melekat” pada realitas lingkungan, cinta lingkungan dan kini menjadi praktisi pendidikan dan seorang ekolog? Tiada lain karena sejak kecil Ia tumbuh dengan orangtua pekerja keras yang setiap hari berangkat ke sawah dan ke kebun. Sosok Dr. Purwanto masa lalunya identik dengan KDM, keluarga kampung yang “melekat” pada realitas keramahan alam sekitar.
Tanah, udara, air, energi sinar matahari, sawah, kebun, sungai dan ternak adalah bagian dari “long term memory” sejak kecil bagi Purwanto junior. Ketika Ia menjadi seorang pendidik, akademisi dan birokrat pendidikan, Ia tak bisa lepas dari kecintaanya pada kelestarian lingkungan. Bagi Dr. Purwanto, M.Pd., otoritasnya sebagai orang nomor satu dalam lokus pendidikan membawa “amanah semesta” untuk memberi penguatan pada kecintaan lingkungan.
Dengan cara bagaimana agar semua orang menjadi cinta lingkungan? Tiada lain dengan cara menguatkan karakter para calon penghuni pasa depan. Melalui anak didik di sejumlah sekolahan. Mengubah orang dewasa sangat tak mungkin, maka dengan proses pendidikan yang ekologian, tidak hanya hitungan, hapalan, teoritik dan knowledge mainded pada anak didik, masih ada harapan.
Anak harus menyentuh tanah, artinya “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” seorang anak didik wajib menghormati, mengikuti, dan menyesuaikan diri dengan adat istiadat, aturan, norma, serta kebudayaan yang berlaku di tempat atau daerah yang ia tinggali maupun kunjungi, termasuk alam sekitarnya. Anak harus sebumi dan membumi, belajar dari “Ibu Pertiwinya” bukan hanya dari ibu kandungnya.
Dalam salah satu tayangan video anak anak pecinta lingkungan terlihat “nyeker”, telanjang kaki, tanpa alas. Mengapa? Agar fisik dan psikologinya menyentuh tanah, dimana Ia pun dulu berasal dari “makhluk” tanah yang Ia injak. Setiap anak hakekatnya “Lahir dari tanah, hidup di atas tanah dan akan kembali pada tanah” Mari kita didik anak agar menjadi pribadi cinta Ibu Pertiwi, tanah yang Ia injak adalah ibu kandung semestanya.

