ELING KA INDUNG: Pesan Profetik Ultah KDM Ke-55

Oleh: *Toto Izul Fatah*
Di antara riuh kegembiraan yang beraroma budaya sangat kuat pada perayaan ulang tahun Kang Dedi Mulyadi (KDM) ke-55 dalam tajuk “Nyuhun Buhun di Lembur Pakuan” (10-12/4/2026), ada pesan profetik yang sangat dalam pada salah satu sesi acaranya. Yaitu, *Eling ka Indung*.
Buat saya, ini bukan sekadar sesi acara biasa. Ini adalah jantung spiritual dari seluruh rangkaian perayaan yang digelar selain mantun, gemyung, ngarak budak sunat dan pagelaran wayang golek.

Pada salah satu sesi perayaan Ultah gubernur Jabar itu,  terasa ada pesan paling jernih, paling dalam, dan paling menggugah. Karena subtema Eling Ka Indung memberi makna sangat dalam, bahwa pada akhirnya, setinggi apa pun seseorang berdiri, sejauh apa pun langkahnya melintasi kehidupan, ia tetap seorang anak yang dahulu lahir dari rahim seorang ibu.
Ia tetap makhluk yang pertama kali mengenal dunia bukan dari istana, bukan dari jabatan, bukan dari tepuk tangan manusia, melainkan dari denyut kasih seorang perempuan yang mengandungnya dalam sunyi, melahirkannya dalam pertaruhan nyawa, lalu membesarkannya dalam cinta yang nyaris tak pernah meminta balasan.

Karena itu, Eling Ka Indung bukan sekadar bagian acara. Ia adalah pesan peradaban. Ia adalah panggilan batin. Ia adalah ajakan untuk menundukkan kepala di hadapan sumber kasih paling awal dalam hidup manusia.
Di zaman ketika banyak orang ingin cepat menjadi besar, tinggi, terkenal, berkuasa, dan dipuja, kita sering lupa bahwa ada satu sosok yang justru membesarkan kita tanpa panggung, tanpa mikrofon, tanpa sorotan, tanpa perayaan.

Ibu adalah tangan sunyi yang menyiapkan kehidupan, tetapi sering dilupakan ketika anak-anaknya mulai sibuk mengejar dunia. Maka ketika Eling Ka Indung dihadirkan dalam perayaan sebesar itu, pesannya menjadi sangat kuat: bahwa sebesar apa pun pesta, ia tidak boleh mengalahkan kesadaran akan asal-usul kasih. Bahwa sehebat apa pun seseorang, ia akan menjadi kecil kembali ketika mengingat ibunya.
Dan justru di dalam “menjadi kecil” itulah manusia menemukan kebesaran sejatinya: yakni kerendahan hati.

Secara filosofis, ibu adalah pintu pertama manusia mengenal cinta, pengorbanan, kesabaran, dan ketulusan. Dari ibu, manusia belajar bahwa hidup bukan pertama-tama soal mengambil, melainkan memberi. Bukan soal ditinggikan, melainkan merendah untuk merawat. Bukan soal dipuji, melainkan ikhlas menjaga yang lemah.
Maka orang yang lupa kepada ibunya, sesungguhnya sedang lupa kepada sekolah pertama kemanusiaannya sendiri.

Eling Ka Indung juga mengandung pesan bahwa dalam tubuh seorang ibu, Tuhan menitipkan banyak sifat-Nya dalam bentuk yang paling dekat dengan manusia: kasih sayang, pemeliharaan, kelembutan, kesabaran, dan kemampuan memaafkan.

Karena itu, mengingat ibu sesungguhnya bukan hanya mengingat orang tua biologis, tetapi juga mengingat jalan ruhani untuk kembali menjadi manusia yang lebih bening.
Di tengah kehidupan publik yang keras, penuh persaingan, penuh ego dan pertunjukan kuasa, pesan Eling Ka Indung terasa seperti embun yang turun di atas batu. Ia melembutkan. Ia mengingatkan bahwa manusia yang hebat bukanlah manusia yang paling keras suaranya, melainkan yang paling kuat menjaga hatinya agar tidak membatu. Dan salah satu cara agar hati tidak membatu adalah tetap menyimpan tempat paling mulia untuk ibu.

Ada sesuatu yang sangat mendalam dari kalimat itu, yakni eling. Bukan sekadar tahu, tetapi sadar. Bukan sekadar ingat secara biologis, tetapi terjaga secara batin. Banyak orang tahu siapa ibunya, tetapi tidak semua orang sungguh “eling” kepada ibunya. Sebab “eling” berarti menghadirkan kembali rasa hormat, rasa terima kasih, rasa bersalah, rasa sayang, dan rasa ingin berbakti.
“Eling” berarti menyadari bahwa sebagian besar kebaikan yang hari ini tumbuh dalam diri kita, dulu disiram oleh air mata ibu yang tak pernah kita lihat sepenuhnya.

Dalam makna yang lebih luas, indung juga bisa dibaca sebagai simbol. Ia bukan hanya ibu dalam arti personal, tetapi juga ibu sebagai akar: tanah kelahiran, kebudayaan, bahasa, kampung halaman, bahkan peradaban yang membesarkan kita.
Maka Eling Ka Indung bisa dimaknai sebagai ajakan untuk tidak durhaka kepada sumber kehidupan kita sendiri. Jangan menjadi manusia modern yang pintar, tetapi tercerabut. Jangan menjadi manusia sukses yang tinggi, tetapi lupa tanah. Jangan menjadi tokoh besar yang dikagumi publik, tetapi asing terhadap kasih yang mula-mula menumbuhkannya.

Itulah sebabnya bagian Eling Ka Indung dalam perayaan itu terasa bukan hanya menyentuh, tetapi juga penting. Ia menanamkan nilai bahwa di tengah modernitas, manusia tetap perlu memelihara kesetiaan pada hal-hal yang paling mendasar: hormat pada ibu, kasih pada orang tua, ingat pada asal, dan rendah hati terhadap kehidupan.

Eling Ka Indung, juga memberi  peringatan moral bahwa ukuran kemajuan seseorang tidak cukup dilihat dari jabatan, popularitas, atau kekayaan, tetapi juga dari caranya memperlakukan ibunya. Dalam banyak kebudayaan dan ajaran, restu ibu bukan hanya perkara etika keluarga, tetapi juga fondasi keberkahan hidup.

Dalam falsafah ajaran leluhur Sunda, Indung itu  sering digambarkan sebagai tunggul rahaya, dan bapak tangkal darajat.  Orang boleh dipuja banyak orang, tetapi bila ia menyakiti ibunya, ada yang retak di dalam jiwanya.
Sebaliknya, orang yang memuliakan ibunya, bahkan ketika hidup sederhana, menyimpan cahaya yang tidak mudah padam.

Dalam ungkapan yang lebih dalam, Ibu itu MUSTIKA HIDUP yang akan ikut menentukan berkah tidaknya seseorang.  Sehingga wajar, dalam salah sau hadist disebutkan, Ridhonya Allah itu ada pada ridho kedua orang tua, termasuk Ibunya.

Jakarta, April 2026

*Toto Izul Fatah*
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top