Semangat belajar dan kepedulian terhadap lingkungan terlihat jelas dari para peserta Volunteer Caraka yang mengikuti program pembelajaran selama 6 hari di Rumah Tumbuh Farm. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang tidak hanya memberikan teori, tetapi juga pengalaman langsung di lapangan tentang bagaimana manusia dapat hidup selaras dengan alam melalui konsep permakultur.

Program ini dirancang untuk membekali para peserta dengan pengetahuan praktis dan aplikatif, terutama dalam menghadapi permasalahan lingkungan yang sering terjadi di sekitar sekolah maupun masyarakat.
Belajar dari Alam, Praktik Langsung di Lapangan.
Selama enam hari kegiatan, para peserta mendapatkan berbagai materi penting yang langsung dipraktikkan. Pembelajaran dimulai dari dasar, seperti pengelolaan sampah organik dan anorganik, yang selama ini sering menjadi persoalan di banyak lingkungan sekolah.
Peserta diajarkan bagaimana memilah sampah, memahami jenis-jenisnya, hingga mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai guna. Tidak hanya itu, mereka juga belajar tentang penataan lahan pertanian, termasuk pembuatan bedengan yang baik dan benar agar tanaman dapat tumbuh optimal.

Salah satu materi yang menarik perhatian adalah penerapan pola garis tanah atau terasering, yang berfungsi untuk mengurangi erosi dan menjaga kesuburan tanah. Para peserta diajak memahami bagaimana kontur tanah dapat dimanfaatkan untuk menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan.
Dari Penyemaian Hingga Pupuk Organik
Tidak berhenti di situ, para peserta juga belajar tentang proses penyemaian dan pembibitan tanaman. Mereka mempraktikkan langsung bagaimana menyiapkan media tanam, menanam benih, hingga merawat bibit agar siap ditanam di lahan.

Selain itu, materi tentang pembuatan pupuk organik menjadi salah satu pembelajaran yang paling berkesan. Peserta dikenalkan dengan metode pembuatan pupuk Berkeley, yang dikenal sebagai metode cepat dalam menghasilkan kompos berkualitas tinggi.

Mereka juga mempelajari pembuatan POC (Pupuk Organik Cair) seperti Bio Compound dan PSB, yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanaman secara alami. Menariknya, seluruh bahan yang digunakan berasal dari lingkungan sekitar, sehingga mudah untuk diterapkan kembali di sekolah masing-masing.

Mengolah Limbah Menjadi Manfaat
Salah satu fokus utama dalam kegiatan ini adalah bagaimana mengubah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Peserta diajarkan untuk mengolah limbah organik, termasuk limbah bekas program MGB (Makan Bergizi Gratis), menjadi pupuk dan bahan yang dapat digunakan kembali.
Selain itu, mereka juga belajar membuat eco enzyme dari sisa buah dan sayuran. Proses ini membuka wawasan baru bahwa limbah dapur yang sering dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi cairan multifungsi yang bermanfaat bagi lingkungan.

Pembelajaran ini menjadi pengalaman baru yang membuka pola pikir peserta tentang pentingnya pengelolaan sampah secara bijak.
Dari Keresahan Menjadi Kesadaran
Selama kegiatan berlangsung, para peserta juga berbagi pengalaman dan keresahan yang mereka rasakan di lingkungan sekolah.

Salah satu peserta menyampaikan,
“Di sekolah kami, daun-daun kering biasanya langsung dibakar. Kami tidak tahu kalau sebenarnya daun tersebut bisa diolah menjadi pupuk yang bermanfaat. Setelah belajar di sini, kami jadi lebih paham dan ingin mengubah kebiasaan itu.”
Peserta lainnya menambahkan,
“Selama ini kami berpikir pengolahan sampah itu sulit dan butuh alat yang mahal. Ternyata tidak. Dengan bahan sederhana dan cara yang tepat, kita sudah bisa mulai dari hal kecil.”

Pemupukan Jadi Lebih Mudah dan Terjangkau
Tidak hanya tentang sampah, pemahaman peserta tentang pemupukan juga mengalami perubahan.
Salah satu peserta mengungkapkan,
“Kami baru tahu kalau membuat pupuk organik itu ternyata mudah. Bahan-bahannya ada di sekitar kita, bahkan di lingkungan sekolah. Ini membuat kami lebih percaya diri untuk mencoba dan mengajarkannya ke teman-teman lain.”
Pembelajaran tentang pupuk Berkeley dan POC Bio Compound memberikan pengalaman baru bahwa pertanian tidak selalu bergantung pada bahan kimia, tetapi bisa memanfaatkan sumber daya alami yang tersedia.

Harapan untuk Lingkungan Sekolah
Setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, para peserta memiliki harapan besar untuk dapat menerapkan ilmu yang telah didapatkan. Mereka ingin menjadi lebih kreatif dalam mengolah sampah di lingkungan sekolah, serta mengedukasi teman-teman dan guru agar lebih peduli terhadap lingkungan.
“Kami ingin membawa perubahan kecil di sekolah, mulai dari pengelolaan sampah hingga pembuatan pupuk organik. Semoga ini bisa berdampak besar ke depannya,” ujar salah satu peserta.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Purwanto, turut memberikan pesan kepada para peserta Volunteer Caraka. Beliau menegaskan bahwa para peserta harus mampu menjadi teladan dan contoh nyata di lingkungan sekolah. Ilmu dan pengalaman yang diperoleh dari Rumah Tumbuh Farm diharapkan tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi dapat disebarluaskan dan diterapkan secara berkelanjutan.

Pengalaman yang Melebihi Ekspektasi
Seluruh rangkaian kegiatan selama 6 hari ini berjalan dengan lancar dan penuh rasa syukur. Para peserta mengaku sangat senang karena ilmu dan pengalaman yang mereka dapatkan jauh melebihi ekspektasi. Tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, mereka juga merasakan kebersamaan, kerja sama, dan semangat untuk berubah menjadi lebih baik.

Pihak pengelola Rumah Tumbuh Farm pun menyampaikan harapan besar agar seluruh ilmu yang telah diberikan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat luas bagi lingkungan. Dengan bekal ilmu, pengalaman, dan semangat yang telah ditanamkan, para Volunteer Caraka diharapkan mampu menjadi agen perubahan, membawa dampak positif bagi sekolah dan lingkungan sekitarnya.

