Oleh: *Toto Izul Fatah*
Trio Sule, Ohang (pelawak) dan Kanaya (vokalis) hari ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari Kang Dedi Mulyadi (KDM). Dalam setiap panggung budaya yang digelar estafet oleh Gubernur Jawa Barat di setiap kabupaten itu, mereka selalu hadir bukan hanya menjadi tontonan tetapi sekaligus menjadi tuntunan.
Di acara tersebut, rakyat tak hanya datang untuk menonton di depan panggung, tetapi ikut merasakan dirinya menjadi bagian dari panggung. Di sana ada musik, humor, nyanyian, kelakar, silaturahmi, bahasa Sunda, kebaya, sindiran halus, dan tawa yang pecah.
Tetapi, disitu juga ada wejangan, ada petuah, ada kalimat sakti dan ada pesan moral dan spiritual yang kuat dari KDM.
Dan di acara tersebut, *Sule, Ohang, Kanaya*, dan empat figur kocak lainnya, *Ceu Popon, Wa Kancil, Ki Daus, Anton Abok,* hadir bukan sekadar pengisi acara. Mereka juga adalah manusia-manusia pengocok perut yang membuat panggung budaya Dedi Mulyadi terasa hidup. Sule dengan popularitas dan spontanitasnya, Ohang dengan kelakar Sunda yang membumi, dan Kanaya dengan pesona vokal serta citra perempuan Sunda yang anggun, modern, tetapi tetap berakar.
Begitu juga empat figur lainnya dengan kekhasan dan kelebihannya masing-masing.
Program safari budaya bertema *“Abdi Nagri Nganjang ka Warga”* itu sendiri sebenarnya merupakan bagian dari sebuah ikhtiar mendekatkan pelayanan publik kepada masyarakat. Sementara, malam harinya dikemas dengan sosialisasi program pembangunan melalui seni pertunjukan.
Disitulah, ada tontonan yang bersifat menghibur dan ada tuntunan yang berisi pesan moral dan spiritual.
Dalam konteks itu, Sule dan Ohang menemukan ruang terbaiknya. Keduanya bukan hanya pelawak. Mereka adalah penerjemah suasana batin rakyat. Lawakan mereka ceplas-ceplos, kadang meledek, kadang menggoda gubernur, kadang seperti “kurang ajar” dalam bentuk yang justru akrab.
Tetapi, justru di situlah letak maknanya. Ketika seorang gubernur bisa diledek di depan rakyat, lalu tertawa bersama rakyat, maka simbol kekuasaan turun dari singgasana formalnya. Gubernur tidak lagi menjadi sosok jauh yang hanya hadir lewat sambutan resmi, baliho, dan protokol. Ia hadir sebagai bagian dari denyut sosial masyarakat.
Sule dan Ohang menghadirkan humor Sunda dalam bentuknya yang paling sehat: humor yang tidak hanya membuat orang tertawa, tetapi juga mencairkan jarak. Humor semacam ini adalah kritik yang dibungkus kelakar. Ia tidak meledak sebagai kemarahan, tetapi menyusup sebagai sindiran yang bisa diterima.
Dalam tradisi Sunda, celetukan semacam itu sering kali menjadi cara rakyat menyampaikan kebenaran tanpa harus melukai. Ada “heureuy”, ada “nyentil”, ada “nyindir”, tapi tetap menjaga rasa.
Kekuatan lain dari Sule dan Ohang adalah kemampuan mereka bernyanyi. Ini penting. Sebab panggung budaya bukan hanya membutuhkan tawa, tetapi juga rasa. Saat komedi bertemu musik, yang lahir bukan sekadar hiburan, melainkan pengalaman emosional.
Rakyat tertawa, lalu bernyanyi, lalu merasa dekat. Pada titik tertentu, panggung itu berubah menjadi ruang terapi sosial. Di tengah tekanan ekonomi, kegaduhan politik, beratnya hidup harian, dan kejenuhan publik terhadap seremoni pejabat, rakyat memang membutuhkan hiburan yang jujur. Yaitu, dengan tertawa tanpa merasa sedang dimanfaatkan.
Sementara itu, Kanaya menghadirkan unsur yang berbeda tetapi melengkapi. Jika Sule dan Ohang membawa ledakan tawa, Kanaya membawa kesejukan visual dan musikal. Tampil cool, cantik, dengan gaya kebaya Sunda, ia menjadi wajah lain dari budaya Sunda; anggun, tertata, feminin, dan berkelas.
Kanaya seperti mengingatkan bahwa kebudayaan Sunda tidak hanya hidup dalam kelakar, tetapi juga dalam estetika, suara, busana, kelembutan, dan kehormatan perempuan.
Kehadiran Kanaya penting karena panggung budaya tidak boleh hanya maskulin, riuh, dan penuh lawakan. Ia membutuhkan keseimbangan. Ada suara perempuan. Ada kebaya. Ada kelembutan. Ada citra Sunda yang tidak inferior di hadapan modernitas.
Maka, kolaborasi Sule, Ohang, dan Kanaya dapat dibaca sebagai harmoni tiga energi. Yaitu: humor, musikalitas, dan estetika Sunda. Sule dan Ohang membuat rakyat tertawa. Kanaya membuat panggung menjadi indah dan teduh.
Lalu, pertanyaannya, apa pesan kuat dari acara-acara budaya Dedi Mulyadi itu?
Menurut saya, yang utama adalah mengembalikan kebudayaan sebagai ruang hidup rakyat, bukan sekadar pajangan museum atau seremoni tahunan.
Budaya Sunda tidak boleh hanya hadir dalam buku sejarah, naskah akademik, atau festival yang elitis.
Budaya Sunda juga harus kembali ke lapangan, ke desa, ke kota, ke panggung rakyat, ke bahasa sehari-hari, ke tawa, lagu, busana, dan silaturahmi.
Karena itu, acara seperti ini bisa dibaca sebagai “pemanasan” kebangkitan budaya Sunda. Bukan dalam arti chauvinistik atau merasa paling unggul, tetapi dalam arti membangunkan kembali rasa percaya diri kultural.
Orang Sunda perlu kembali merasa bangga pada bahasanya, seninya, humornya, pakaiannya, adatnya, dan nilai leluhurnya.
Inilah yang sering hilang dari masyarakat modern, yaitu akar. Banyak orang semakin pintar secara teknologi, tetapi semakin asing dari sumber budayanya sendiri. Banyak anak muda fasih meniru budaya luar, tetapi gagap ketika diminta menjelaskan nilai “silih asah, silih asih, silih asuh”.
Dalam konteks itulah, panggung budaya Dedi Mulyadi, dengan segala plus-minusnya, dapat dibaca sebagai ajakan untuk pulang. Yaitu, pulang kepada bahasa, kepada tawa, kepada seni, kepada adab, kepada jati diri.
Di sinilah Sule, Ohang, dan Kanaya menjadi penting. Mereka membantu Dedi Mulyadi mengubah panggung pemerintahan menjadi panggung rasa. Pemerintah tidak hanya datang membawa program, tetapi membawa hiburan.
Yang pasti, pesan terbesar dari kolaborasi Sule, Ohang, Kanaya, dan KDM adalah, bahwa Sunda tidak sedang dipajang sebagai nostalgia, tetapi sedang dihidupkan sebagai energi sosial.
Jakarta, Mei 2026
*Toto Izul Fatah*
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegallega Sukabumi Jawa Barat.

