Oleh: *Toto Izul Fatah*
Sikap Iri, dengki dan benci itu bukan sekadar metafora agama. Dalam banyak kajian berbasis riset, ketiga sikap yang menggambarkan kekotoran hati itu bisa menjadi beban fisiologis yang nyata. Seseorang yang sedang dilanda iri, dengki dan benci, maka tubuhnya tidak diam. Ia bekerja lebih kencang. Saraf otonom pun bekerja lebih keras, tekanan darah makin meningkat, dan hormon stres bergerak lebih aktif. Puncaknya, ledakan ketiga sifat hati yang kotor tadi dapat berujung pada resiko penyakit jantung dan stroke.
Orang yang terus menyimpan iri, dengki dan benci itu sesungguhnya sedang memaksa dirinya hidup dibawah bayang-bayang orang lain. Ia menjadikan kebahagiaan orang lain itu sebagai siksaan bagi dirinya. Dalam bahasa ilmiah, keadaan seperti itu dekat dengan pola rumination. Yaitu, pikiran berulang yang mengunyah luka, membandingkan diri dan memperpanjang penderitaan.
Dalam ajaran agama Islam, sikap iri, dengki dan benci itu masuk dalam kategori penyakit hati. Begitu juga dalam tradisi Buddhisme, sikap iri dan dengki serta benci itu sebagai racun batin yang menghalangi kejernihan pikiran. Dari berbagai persfektif itulah, baik sains maupun agama, sampai pada kesimpulan yang sama, bahwa manusia yang memelihara iri, dengki dan benci sedang mempersempit hidupnya sendiri.
Pertanyaannya, bagaimana agar kita mampu terhindar dari tiga sikap kotor itu? Ada sebuah pesan menarik dari ajaran leluhur yang sering kita dengar. Jika kita ingin bersih hati, rajin-rajinlah berbagi. Sebab dengan berbagi, seluruh kotoran yang ada dalam hati akan bersih.
Menurut ajaran kuno itu, sikap iri, dengki dan benci itu muncul karena masih ada hak orang yang tertahan dalam diri. Atau, ada hak orang yang masih belum dikeluarkan.
Dalam tradisi Islam, dikenal dengan istilah zakat. Yaitu, salah satu cara untuk membersihkan kotoran dalam tubuh kita dengan mengeluarkan hak orang lain atas rizki yang telah diberikan Allah swt.
Karena itu, dalam Islam, ajakan untuk menjaga kebersihan hati, selalu beriringan dengan seruan untuk berbagi.
Sebab, hati yang kotor itu selalu punya hubungan dengan tangan yang terlalu kuat menggenggam. Orang yang sulit berbagi biasanya juga sulit lapang. Ia berat mengeluarkan zakat, pelit berinfak, enggan bershadaqah, tetapi mudah tersinggung, mudah cemburu, mudah marah melihat orang lain lebih berhasil.
Ia ingin hidup berkecukupan, tetapi enggan menunaikan kewajiban sosial yang melekat pada kecukupan itu. Ia ingin terlihat saleh, tetapi tidak rela hartanya disentuh oleh penderitaan orang lain.
Di sinilah petuah para leluhur itu terasa begitu dalam: mengapa manusia iri dan dengki? Karena di dalam dirinya masih banyak hak orang lain yang belum dikeluarkan.
Kalimat ini sederhana, tetapi menghunjam. Sebab ia menampar jantung persoalan kita. Yang membuat hati keruh sering kali bukan karena kita terlalu sedikit memiliki, melainkan karena terlalu banyak menahan. Kita menahan zakat yang wajib. Kita menahan infak yang bisa meringankan. Kita menahan sedekah yang seharusnya melunakkan jiwa.
Dalam ajaran Islam, logikanya sangat terang. Zakat bukan semata kewajiban administratif agama. Ia adalah jalan penyucian. Bukan hanya harta yang dibersihkan, tetapi juga jiwa pemilik harta itu. Dalam setiap rezeki ada amanah. Dalam setiap kelebihan ada titipan. Dalam setiap nikmat ada hak orang lain. Maka ketika seseorang menahan apa yang seharusnya dikeluarkan, sesungguhnya ia bukan hanya menahan aliran harta, tetapi juga menumpuk kotoran batin di dalam dirinya sendiri.
Pada titik inilah agama sering gagal dipahami secara utuh. Banyak orang mengira ibadah hanya soal hubungan vertikal dengan Tuhan, padahal Tuhan sendiri memerintahkan agar hubungan horizontal dengan sesama tidak diabaikan.
Apa arti panjangnya doa jika tetangga kelaparan? Apa arti fasihnya zikir jika fakir miskin dipandang dengan dingin? Apa arti serbuan ritual jika di saat yang sama hak orang lain masih ditahan dengan seribu alasan?
Kita harus berani mengatakan: orang yang rajin ibadah tetapi malas berbagi, sedang merawat kesalehan yang pincang. Sebab salah satu tanda hati bersih bukan hanya mata yang mudah menangis saat berdoa, tetapi juga tangan yang ringan terbuka saat melihat orang lain membutuhkan.
Hati yang bersih tidak cuma pandai memohon ampun kepada Tuhan, tetapi juga sadar bahwa dalam hartanya ada tanggung jawab untuk sesama. Kalau tidak, agama tinggal menjadi kosmetik moral: indah di bibir, tetapi tandus dalam watak.
Lebih jauh lagi, iri dan dengki sesungguhnya tumbuh dari jiwa yang merasa dirinya pusat segala-galanya. Ia ingin nikmat berkumpul di dirinya. Ia sulit melihat orang lain naik. Ia gelisah jika orang lain bahagia. Ia resah jika ada yang lebih beruntung. Mengapa? Karena ia tidak pernah benar-benar sembuh dari penyakit memiliki secara berlebihan. Karena itu, zakat, infak, serta shadaqah adalah obat paling konkret untuk memukul penyakit itu dari akarnya. Dengan berbagi, manusia dilatih mengakui bahwa ia bukan pemilik mutlak. Ia hanya penerima titipan. Ia hanya penjaga amanah.
Dalam konteks inilah, berbagi bukan semata tindakan sosial. Berbagi juga resep sakti bersih hati. Kenapa? Karena disitu ada pembongkaran ego. Setiap kali seseorang mengeluarkan zakat, ia sedang memukul kerakusan dalam dirinya. Setiap kali ia berinfak, ia sedang melatih jiwa agar tidak diperbudak rasa takut miskin. Setiap kali ia bersedekah, ia sedang mengikis benih-benih iri, sombong, dan cinta dunia yang berlebihan.
Dan nikmat yang tidak dibagi akan mudah berubah menjadi sumber kesombongan. Harta yang tidak dialirkan akan mudah berubah menjadi sumber kekerasan batin.
Di situlah letak kemuliaan berbagi. Ia mendidik manusia menjadi rendah hati. Orang yang benar-benar gemar berbagi akan paham bahwa dirinya tidak sedang menyelamatkan orang lain dari atas, melainkan sedang menyelamatkan dirinya sendiri dari bawah: dari dasar jiwa yang rakus, dari lubang batin yang tamak, dari gelap hati yang gampang iri kepada nikmat orang lain. Maka berbagi sejatinya bukan pengorbanan, tetapi pemurnian.
Bila hari ini kita masih mudah iri, gampang dengki, cepat marah, sulit ikhlas, dan susah melihat orang lain bahagia, mungkin kita perlu berhenti sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada titipan Tuhan yang masih kita tahan dan belum disalurkan?
Wassalam.
Jakarta, April 2026
*Toto Izul Fatah*
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat

